ENG
PDF Print E-mail
There are no translations available.

12.342 TON HASIL PERKEBUNAN LADA BANGKA SELATAN


 

12.342_TON_HASIL_PERKEBUNAN_LADA_BANGKA_SELATANToboali - Pada 2011 mencapai 12.342 ton atau meningkat jika dibandingkan hasil 2010 sebanyak 11.289 ton seiring luas tanam komoditas tersebut, hasil perkebunan lada di Kabupaten Bangka Selatan Provinsi Bangka Belitung (Babel).

"Minat petani untuk mengembangkan kembali perkebunan lada cukup tinggi karena harga lada di pasaran lokal naik," ujar Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Bangka Selatan, Hatamarryaryid di Toboali, Rabu.

Ia menjelaskan, pada 2011 luas perkebunan lada mencapai 18.766 hektare dengan produksi 12.342 ton, tersebar di tujuh kecamatan yaitu Kecamatan Toboali, Air Gegas, Simpang Rimba, Lepar Pongok, Tukak Sadai, Pulau Besar, dan Kecamatan Payung.

Pada 2010 luas perkebunan lada 17.854 hektare dengan produksi 11.289 ton, 2009 seluas 16.899 hektare dengan produksi 5.127 ton, 2008 luas perkebunan lada 13.190 hektare dengan produksi 5.280 ton, 2007 13.340 hektare produksi 6.067 ton, 2006 seluas 13.074 hektare dengan produksi 4.955 ton, 2005 seluas 12.772 hektare dengan produksi 4.509 ton, 2004 seluas 13.241 hektare dengan produksi 6.241 ton.

"Dalam 10 tahun terakhir,produksi lada mengalami penurunan cukup drastis karena sebagian besar petani beralih menambang bijih timah, karena mereka menilai menambang timah lebih cepat menghasilkan uang dari pada berkebun lada," ujarnya.

Menurut dia, pada saat itu, petani kurang berminat untuk berkebun lada juga dikarenakan harga lada di pasaran rendah tidak sebanding dengan biaya pengelolaan dan perawatan yang dikeluarkan petani.

"Saat ini, harga lada di tingkat pedagang pengumpul mencapai Rp70 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram, jika dibandingkan harga lada tujuh tahun sebelumnya hanya berkisar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram," ujarnya.

Ia mengatakan, membaiknya harga komoditas ekspor ini karena permintaan pasar nasional dan internasional tinggi, karena lada Babel yang dikenal 'Muntok white Pepper' memiliki cita rasa dan aroma yang khas berbeda dengan hasil perkebunan lada di daerah lainnya.

"Sampai saat ini, kualitas lada masih terjaga dengan baik, sehingga permintaan pasar internasional seperti Eropa, Amerika Serikat, Arab Saudi, India, Jepang dan lainnya sangat tinggi, hasil lada petani tidak mampu memenuhi permintaan pasar tersebut," ujarnya.

Untuk itu, kata dia, kami terus mendorong petani untuk kembali mengembangkan luas tanam lada ini, melalui kegiatan sosialisasi cara pengelolaan lada dengan baik, bantuan bibit, pupuk dan lainnya. Saat ini, minat petani untuk berkebun lada sudah kembali baik, seiring petani sudah mendapatkan kemudahan untuk meningkatkan produksi dan kesejahteraan keluarga mereka.

 

-size:d p;xn�pd�ly:"Times New Roman","serif"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"'>

 

ru hP& aLxn�pd�ura mengingat kapal-kapal pengangkut BBM ke Timika mengambil BBM di Ambon dan Tual, Maluku Tenggara.